Postingan

CHAPTER 10 : Blooming in The Dark

Gambar
Bersemi karena terang, tapi apa mungkin itu semua terjadi dalam kelam dan minim daya? Sebuah pertanyaan yang semata-mata tak pernah dilontarkan selalu dalam hati. Sebabnya terlalu dini atau bahkan sudah terlalu usang akibat trauma mendalam. Penuh terombang-ambing dalam distorsi ingatan, terpecah, terbesit sedikit pelit dan berbelit-belit terhimpit dan pamit. Marah dalam situasi berkembang namun situasi kadang seperti mencekik sang empunya. Mencari celah cahaya mengatasi luka saat badan terasa renta terbata-bata untuk menata, sejumput garam di tebar mengharap ia kembali menjadi laut terasa mustahil namun percaya saja ini semua bukan hal yang nihil.  Mendambakan jeritan yang terbungkam, yang tak sengaja lepas dalam bentuk kuntum. Garis takdir yang aku percaya hanya berhentinya nafas bukan layu di tengah jalan, naif satu kata yang terbayang. Warnanya kian makin terang bukan sebagai yang paling indah dan cepat, namun yang paling tahu kapan ia harus mekar. Takjub hal ini ter...

CHAPTER 9 : Being You

Gambar
Ada fase yang pelan-pelan datang ketika kita mulai beranjak dewasa. Bukan karena hidup akhirnya berjalan sesuai rencana atau semua mimpi sudah berhasil diwujudkan. Melainkan ketika ada kesadaran untuk berhenti mengukur diri sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain, hingga timbul sebuah pertanyaan "Apakah aku sudah jujur pada diriku sendiri?" Ternyata menjadi diri sendiri bukan sebuah perkara yang sederhana, karena kita terlalu biasa dengan berbagai standar, bahkan sudah sejak kecil. Kita terlalu sibuk memenuhi berbagai peran, hingga melupakan satu hal yang paling penting, yaitu apa yang benar-benar kita inginkan. Waktu berjalan, kita bertemu banyak orang, kehilangan beberapa di antaranya. Menyadari bahwa mimpi ternyata terus mengalami perubahan dan belajar bahwa hidup tidak selalu punya jawaban yang pasti. Dari sana kita belajar, tidak semua orang dapat memahami pilihan hidupmu. Tidak semua mampu mendukung semua pencapaianmu dan tidak semua bertahan u...

CHAPTER 8 : Notes for Heavy Days

Gambar
Kira-kira apa yang ada di pikiranmu ketika memutuskan untuk berhenti sejenak? Apakah kamu merasa lemah? Atau justru kamu merasa tertinggal dari semua orang yang ada di sekitarmu? Entah jawaban seperti apa yang menguasai pikiranmu saat ini, aku yakin ada satu kesamaan, pasti semuanya terasa berat. Setiap orang pasti punya hari-hari seperti itu. Hari ketika semuanya terasa berjalan di luar rencana dan ketika hal-hal kecil mendadak terasa begitu melelahkan. Di hari-hari seperti itu, mungkin kita tidak perlu menjawab satu per satu pertanyaan yang memenuhi kepala. Kita hanya butuh berhenti sejenak. Menarik napas yang dalam. Memberikan kesempatan kepada tubuh serta pikiran kita untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia. Semua orang memiliki beban yang berbeda, karena itu tidak ada gunanya membandingkan siapa yang paling menderita atau siapa yang paling tidak beruntung. Besar atau kecilnya masalah tidak serta merta diukur menggunakan t...

CHAPTER 7 : Learn to Lean

Gambar
Kita sedang berusaha untuk sembuh. Tanpa merasa dikejar oleh waktu atau tekanan. Tanpa memaksakan diri untuk terlihat "baik-baik saja", tapi sesuai dengan kemampuan kita. Pada proses itu, ternyata kita bukan membutuhkan sebuah jawaban seperti nasihat panjang atau solusi yang justru terdengar rumit. Melainkan butuh sebuah sandaran, tempat hati merasa aman menaruh beban kehidupan yang begitu berat. Kapan terakhir kali kamu mencoba untuk bisa berbagai beban kepada orang lain tanpa perlu banyak pertimbangan? Kapan terakhir kali kamu bisa menangis sesukamu tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain atau takut dianggap lemah? Anehnya, kadang kita lebih mudah memasang telinga untuk mendengarkan masalah orang lain, tetapi langsung terdiam ketika menjelaskan luka diri sendiri. Terlanjur menanamkan skenario terburuk, yaitu takut menyusahkan dan takut dikasihani. Padahal menyadari perasaan kita sendiri bukanlah suatu kejahatan dan kamu tidak perlu menanggungnya sendirian. S...

CHAPTER 6 : Heartfelt Conversation

Gambar
Bara itu mulai melemah,  menampilkan sisi-sisi paling gelap di dalam diri. Takut pada ekspetasi. Takut mengejar harapan. Takut gagal. Takut sendirian. Takut pada hal yang bahkan tidak ada. Segala ketakutan itu mendadak memenuhi sekujur tubuh dan secara perlahan menggerogoti rasa aman di dalam hati, hanya menggantung beribu pertanyaan yang entah dari mana asalnya. Kamu tidak pernah selesai jika berbicara tentang ekspetasi yang terkadang sampai menarik kita pada perasaan kecil lebih dari pada apa yang sudah kamu kerjakan, tapi apakah benar kalau ini yang kita cari? Pertarungan yang mungkin bisa kamu hindari,  dengan mulai mendengarkan suara hati dan berhenti terlalu keras pada diri sendiri, maklumi bahwa setiap pergerakan pun tetap memiliki artinya. Cobalah sesekali bersikap lebih baik pada dirimu sendiri, sama seperti yang bisa kamu lakukan pada orang-orang. Mencoba menghargai melalui cara yang paling sederhana, demi ketenangan yang terjaga.  Siapkah kamu untuk...

CHAPTER 5 : Unclaimed Letter

Gambar
Untuk Versi Kecil Diriku Hai jiwa kecil yang penuh mimpi dan rasa penasaran! Tulisan ini dikirim dari masa depan, tempat yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan. Disini mimpi-mimpimu mengalami banyak perubahan dan ternyata apa yang kamu anggap sebagai ketakutan itu tidak benar-benar terjadi, malah terkadang menjadi sebuah kekuatan yang mendorongmu untuk bisa melangkah lebih jauh lagi. Terima kasih karena sudah menghabiskan waktu untuk puas bermain dan melakukan berbagai hal tanpa perlu banyak pertimbangan. Meski kadang terkena marah karena dianggap terlalu nakal, tapi masa itu tetap dikenang untuk waktu yang lama, bahkan kalau bisa ingin diulang kembali. Tolong maafkan juga jika dulu timbul perasaan tidak didengar atau terabaikan atas apa yang ingin kamu sampaikan hingga menorehkan sebuah luka, semoga itu tidak memudarkan keceriaan dan senyum yang ada di bibirmu.  Satu hal yang perlu kamu ingat, janganlah terlalu cepat dewasa, nikmatilah setiap masa yang ada di depan ...

CHAPTER 4 : Ordinary Days

Gambar
Alarm kembali berbunyi. Itu pertanda harus memulai hari, meski tubuh masih terlalu berat meninggalkan kasur dengan ribuan mimpi. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru, hanya rutinitas yang terus berulang-bangun, bekerja, beristirahat, lalu kembali melakukannya lagi di hari esok. Hari-hari seperti ini sering kali terasa biasa, bahkan membosankan dan memuakkan. Namun, mungkin dalam kebiasaan berulang itulah kita sedang belajar mengenal diri sendiri-mencari ritme yang paling mampu membuat kita bertahan. Ketika rasa bosan itu kembali lagi, kita belajar sekali lagi untuk mengelolanya, bukan melarikan diri darinya. Barangkali mengelola diri sendiri bukan tentang memaksa untuk selalu kuat atau selalu produktif, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan meski tidak setiap hari terasa menyenangkan. Memberi ruang pada diri sendiri untuk salah, tetapi bukan membiarkan kesalahan itu mengambil alih seluruh arah hidup. Sebagai manusia, kita memang mudah merasa kekurangan. Selalu meli...