CHAPTER 10 : Blooming in The Dark
Bersemi karena terang, tapi apa mungkin itu semua terjadi dalam kelam dan minim daya? Sebuah pertanyaan yang semata-mata tak pernah dilontarkan selalu dalam hati. Sebabnya terlalu dini atau bahkan sudah terlalu usang akibat trauma mendalam. Penuh terombang-ambing dalam distorsi ingatan, terpecah, terbesit sedikit pelit dan berbelit-belit terhimpit dan pamit. Marah dalam situasi berkembang namun situasi kadang seperti mencekik sang empunya. Mencari celah cahaya mengatasi luka saat badan terasa renta terbata-bata untuk menata, sejumput garam di tebar mengharap ia kembali menjadi laut terasa mustahil namun percaya saja ini semua bukan hal yang nihil. Mendambakan jeritan yang terbungkam, yang tak sengaja lepas dalam bentuk kuntum. Garis takdir yang aku percaya hanya berhentinya nafas bukan layu di tengah jalan, naif satu kata yang terbayang. Warnanya kian makin terang bukan sebagai yang paling indah dan cepat, namun yang paling tahu kapan ia harus mekar. Takjub hal ini ter...