CHAPTER 4 : Ordinary Days

Alarm berbunyi, itu tandanya harus segera memulai hari, meski terlalu berat rasanya untuk meninggalkan kasur dengan ribuan mimpi. Kembali melakukan hal berulang setiap hari, mulai dari pagi hingga ke pagi berikutnya. Aku setuju jika itu sewaktu-waktu terasa membosankan dan biasa saja, tapi mungkin memang itu adalah proses di mana kita bisa menemukan rutinitas yang paling cocok—meski aku yakin pasti nanti bosan itu akan datang lagi cepat atau lambat.

Ya namanya juga manusia.
Makhluk di bumi yang selalu merasa tidak cukup dengan apa kepunyaannya. Selalu ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih menarik. Itu sah-sah saja, bahkan bisa menambah nilai positif jika memang digunakan melalui cara yang benar, contoh sederhananya adalah keinginan untuk belajar hal baru atau mencari hobi baru. Selama itu tidak berupa pelarian yang bisa merugikan diri sendiri.

Selain cepat bosan, satu kebiasaan lain adalah simbiosis membandingkan diri dengan orang lain. Para fresh graduate merasa iri dengan orang yang sudah punya pekerjaan entah itu kantoran atau bidang usaha lainnya. Di lain sisi para pekerja merasa iri kepada orang-orang dengan jabatan yang lebih tinggi. Berikutnya orang-orang yang lebih tinggi itu merasa iri dengan fresh graduate yang memiliki umur yang masih muda dan masih punya banyak kesempatan untuk mencoba apapun. Lantas siapa yang benar? Mungkin jawabannya tidak ada, karena memang begitulah siklusnya, hanya bisa menerima, terbiasa, dan ikhlas pada waktunya.

Seperti itulah hari-hari biasa, meski rumitnya luar biasa. Semoga kita selalu bisa bertahan, dan hasil akhirnya pun sepadan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER 1: Between You and Your Flaws

CHAPTER 2 : Between You and Your Busy Mind