CHAPTER 10 : Blooming in The Dark
Bersemi karena terang, tapi apa mungkin itu semua terjadi dalam kelam dan minim daya? Sebuah pertanyaan yang semata-mata tak pernah dilontarkan selalu dalam hati. Sebabnya terlalu dini atau bahkan sudah terlalu usang akibat trauma mendalam. Penuh terombang-ambing dalam distorsi ingatan, terpecah, terbesit sedikit pelit dan berbelit-belit terhimpit dan pamit. Marah dalam situasi berkembang namun situasi kadang seperti mencekik sang empunya. Mencari celah cahaya mengatasi luka saat badan terasa renta terbata-bata untuk menata, sejumput garam di tebar mengharap ia kembali menjadi laut terasa mustahil namun percaya saja ini semua bukan hal yang nihil.
Mendambakan jeritan yang terbungkam, yang tak sengaja lepas dalam bentuk kuntum. Garis takdir yang aku percaya hanya berhentinya nafas bukan layu di tengah jalan, naif satu kata yang terbayang. Warnanya kian makin terang bukan sebagai yang paling indah dan cepat, namun yang paling tahu kapan ia harus mekar. Takjub hal ini terjadi sewaktu mentari tak menembus kelopak, angin tak menghembus lewat akar dan daun. Walau benihnya ditanam di tanah yang gersang, tidak cukup untuk melihat bercabang namun semakin gigih ia memanjangkan sulurnya ke arah cahaya yang tidak terlihat.
Rapuh dan terombang ambing walau ia tumbuh di tempat yang subur ia bukan berdiri di hamparan padang rumput hijau, hanya di dalam kotak kecil yang airnya di cicil sumbernya dari hulu sungai yang deras. Terukir di jidatnya kata "BODOH" ia diberikan taring namun tak diberikan cara memakainya, duhai merdunya sifat buruk wajar dan terus dilestariakan. Suguhi kisah dengan sutra lembut jangan tidur di atas kasur yang mulai terkoyak, jadikan kamu punya singgasana bagai keluarga Pangeran Charles, bukan sebagai pencuri yang dikejar-kejar sebagai buronan. Kamu bukan pengutip hak orang lain, kamu juga tak pernah mencoba menjadi pesulap yang tiba tiba menghilang walau bukan dalam pertunjukan. Hiduplah seperti Indonesia Raya yang saat dikumandangkan kita otomatis menghormatinya. Perintis bisa untuk meringis dan turut menangis. Guratannya sungguh nyata niscaya itu pertanda keberhasilan.
Melihat memang menarik menikmati serbuk sari memikat hati, tapi duri di tangkainya sudah bermakna ia tinggal di fatamorgana terlihat ada namun tak nyata. Mundur selangkah yang ada hanya daun yang terhuyung jatuh ke tanah. Melepasnya terkadang sulit tapi harus, melukai sekejap sembuh dalam mata terpejam. Lantas angan di hari tua ingin masih tetap hidup atau jadi yang paling indah. Rentetan momen ini ada di dalam kepala yang sibuk memutar bagai piringan hitam berbeda suara namun sama saja di mata.
Caci maki untuk menumbuhkan akar semakin kuat, semudah membalikan tangan jangan di anggap sulit ini cuman tantangan di awal. Bar pertama yang kudengar pasti semua bisa, semua mudah dilakukan. Tahapan kedua ramah dan rayu agar tetap setia tegar bersama. Rumah kaca tampak lebih baik, walau itu semua buatan ketimbang kotak hitam. Wajar sekali yang lain kurang lebih umurnya sampai panen lalu di tebang.
Solusi untuk setiap masalah diam sebentar bergerak bergetar sampai tak gentar. Lambaikan tangan dan cari bantuan jangan sampai seperti pengantar pesan hanya dapat menaruh dan menyambungkan tak bisa meminta pertolongan. Suara tetaplah yang paling kuat ia mampu menghipnotis, tidak dengan mistis melainkan psikis. Berucaplah seolah olah kamu Tuhan yang baik bukan dari suara berisik, sirik, dan munafik. Tafsirkan ini sebagai pedoman berbuat seperti apa yang mau kamu terima dan berterimakasihlah.
Asumsi biarlah liar tetap berakal jangan dangkal, nakal, binal, dan gagal. Cambuk yang mengamuk buatlah seperti nyala api terbakar lalu menjadi bara. Panas berkeringat agar menjadi pengingat kamu pernah ada disini. Kabut yang menutupi ditanggapi hujan di sore hari penyejuk tanah yang berdebu. Menggebu-gebu bersorak-sorai orang yang mampu melewati ujiannya di bumi. Bukti bahwa kamu ditugaskan untuk membawa tekad terikat, melekat, dan kuat.
Beri mantra dari keterpurukan duka itu awal dari suka, luka sembuh sukar namun bersabar itulah penawar. Sebutlah namanya saat sedang patah hati, Ia tidak pernah mengkhianati namun kita yang lupa diri hanya sosok yang derajatnya masih menapak bumi. Perlu di garis bawahi hidup ini sudah di ujung jari nampak dekat dengan ajal pun dekat. Sudah lihat kamu yang dulu termenung dalam mercusuar menuntun kapal-kapal yang dekat tapi ia sendiri dalam badai.
Campakan dalam tungku masak dalam resep yang tepat walau sulit menemukan bumbu yang tepat. Campurkan sedikit keringat membantu menguatkan rasa, jangan terlalu banyak nanti terganggu kecapean. Pahit itu bangkit sudah gundah dihajar merendah tarik busur dan anak panah targetkan di atas kepala itu akan mengenai tepat di tengah. Terimakasih warga yang membaitkan semoga ini tidak menyakitkan.
***
Writer:
Ren, 2026.
Komentar
Posting Komentar